1. Frank Erkind
Frank Erkind terlahir di negara bagian Queensland pada tanggal 2 Maret 1967, sebagai Francesca Elizabeth Roche. Dia lahir sebagai bayi perempuan yang manis, lalu tumbuh menjadi “pria” muda yang tampan.
Di saat saya lahir, saya hampir membunuh Ibu. Saat itu saya bertahan begitu gigih, tak mau keluar dari rahimnya sekaligus menyiksanya dengan rasa sakit yang tak biasa. Persalinan sudah berjalan hampir empat belas jam, dan saya masih bandel, belum mau keluar. Dokter yang membantu kelahiran saya kelak berkata, ketika Ibu sudah hampir sekarat kehabisan darah dan tenaga, dia berteriak memanggil saya dengan nama yang sudah disiapkannya,
“Francesca Elizabeth Roche atau Marcus William Roche! Keluarlah dan berhenti menyiksa ibumu!” dan ajaibnya, saya langsung mengalah dan sisanya tinggal cerita kelahiran biasa. Dokter itu menepuk bahu saya dua puluh dua tahun kemudian dan berkata,
“Bahkan sebelum lahir, kau adalah makhluk yang sangat sulit ditangani,”
Menurut kesaksian orang-orang sekitar rumahku di Queensland, saya tumbuh menjadi anak yang liar dan sulit dipegang. Saya licin seperti belut di air dan ganas seperti harimau muda. Saya senang memanjat pohon, memecahkan kaca jendela, bermain-main dengan pemantik dan menghancurkan berkas-berkas kerja Ayah. Mereka sering melihat saya duduk termenung di bawah pohon jacaranda halaman rumah, sedang dihukum tak mendapat jatah pencuci mulut setelah makan siang. Tapi belum sepuluh menit berlalu, saya sudah hilang entah ke mana.
Saya tak bisa mengingat semua itu. Saya sering melakukan represi jika mengalami sesuatu yang buruk. Jadi semakin sedikit yang saya ingat, berarti semakin banyak hal keji yang terjadi pada saya. Celakanya, saya hampir tak ingat apa-apa tentang masa kecil. Yang sedikit membekas dalam kepala saya hanya wajah Ayah, wajah Ibu, pakaian-pakaian bayi merah muda milik saya, lalu Tony, anjing jack russel terrier peliharaan kami.
Orangtua saya, Tuan dan Nyonya Roche yang tersayang, mati dibantai perampok saat saya masih tujuh tahun. Saya dengar dari orang sekitar, katanya sebelum orangtua saya dibunuh, mereka melemparkan saya keluar lewat jendela dapur lalu menyuruh saya lari. Tanpa sempat menyampaikan salam perpisahan, dari belakang mereka langsung dihantam ayunan kapak membabi-buta. Roselen, tetangga kami, melihatnya. Katanya saya berlari seperti kesetanan, lalu jatuh tersandung mayat Tony di sekitar pagar kebun. Roselen mengambil saya dan menelepon polisi. Saat mereka tiba, saya sudah resmi jadi yatim-piatu. Saya sama sekali tak ingat bagian itu. Saya melupakannya. Tapi orang-orang terus mengenang dan membicarakannya. Membicarakan tubuh ayah-ibu saya yang dikuburkan dalam satu peti besar yang tertutup rapat. Membicarakan Tony yang digorok perampok untuk membungkam gonggongannya.
Saya kemudian diurus oleh Ain dan Erid, Tuan dan Nyonya Erkind, pasangan muda yang membawaku ke Perth. Saya dibesarkan sebagai anak tunggal. Maksud saya, anak laki-laki tunggal. Ketika lahir, bayi perempuan dan bayi laki-laki hanya bisa dibedakan jika kita melihat bagian bawah tubuhnya yang telanjang, bukan? Selebihnya mereka sama seperti deretan boneka tanpa gender di toko-toko.
Yang membentuk mereka menjadi perempuan atau laki-laki adalah orang-orang dewasa di sekitar mereka, menambahkan ini dan itu, memastikan anak-anak perempuan berambut panjang dan memainkan permainan yang seharusnya. Memastikan anak-anak laki-laki memainkan bola dan bukannya main masak-masakan atau dandan-dandanan. Nah, Tuan dan Nyonya Erkind melakukan hal yang terbalik. Saya hidup dalam paradoks selama sepuluh tahun bersama mereka. Lagipula saat berada di tangan mereka, saya adalah botol kosong tanpa ingatan yang dengan mudah bisa mereka isi sesukanya.
Setelah itu, saya bukan lagi Francesca Elizabeth Roche, saya menjadi Frank Erkind dan akan langsung meninju siapapun yang memanggil saya dengan nama asli. Ingatan tentang pakaian-pakaian bayi merah muda semakin terlupakan. Saya tak pernah lagi menggunakan baju perempuan, atau warna perempuan.
Waktu baru tumbuh remaja, rambut saya bergaya anak laki-laki era teddy boys, pakaian saya berandal, lusuh, bicara seenak perut saya sendiri, saya sangat suka berkelahi dan melempar botol pada lawan-lawan. Saya begundal, tapi tampang saya seperti pemuda Inggris berwajah manis. Saya benci itu, saya benci wajah saya yang lembek. Bahkan saya pernah berpikir untuk menambahkan codet-codet kecil di situ dengan mempergunakan pisau lipat. Tapi Bilbert teman saya berkata nanti saya akan tampak seperti perampok, dan mendengar kata perampok membuat perut saya menjadi mual. Saya teringat pada Tuan dan Nyonya Roche. Tapi cuma sebentar, lalu saya melakukan represi lagi dan mereka menghilang dalam wujud hantu phantom yang berwarna abu-abu.
Saya tak bahagia berada di sekolah. Sekolah memaksa saya memakai rok dan diam sepanjang waktu dalam kursi saya. Sedang saya baru saja menemukan kesenangan menggunakan pensil saya untuk menggambari dinding kelas, sebuah perbuatan terlarang yang akan diganjar pukulan di lutut. Sekolah tak pernah membolehkan saya menggambar. Saya hanya boleh membaca buku ilmu pengetahuan alam, matematika, sejarah dan lain-lain. Mendengarkan. Sesekali boleh bertanya. Tapi seringkali saya ditendang keluar dari kelas gara-gara pertanyaan-pertanyaan saya yang menurut mereka “tak wajar ditanyakan oleh anak seusianya”. Bahkan saya pernah diskors tiga hari hanya karena bertanya bolehkah saya pergi ke sekolah dengan memakai celana saja seperti anak laki-laki lain.
Saya gelisah. Mendadak saya phobia buku-buku ilmu pengetahuan alam. Saya ingin keluar dari sekolah dan belajar melukis, tapi nanti Ain dan Erid pasti akan mencaboki saya, menampari saya bergantian sebagai anak yang tak tahu diri. Maka saya sabar-sabarkan diri untuk terus berada di kelas. Saya bersabar meskipun saya sudah tak tahan ingin menendangi kaki-kaki meja, ingin mencorat-coret dinding sekolah, membuat gambar naga Cina sepanjang lima meter di sana, ingin mencopot rok sialan yang saya pakai dan memecahkan jendela ruang direktur sekolah dengan lemparan bola baseball.
Saya bertahan sebisanya di sekolah, dan sungguh ironis, di tempat buruk itulah saya menemukan cinta pertama saya yang begitu indah.
2. Josie dan Katja.
Josie Diehl adalah pacar perempuan pertama saya. Anak perempuan berambut gelap. Bermata hijau kekuningan seperti tomat muda. Kulitnya halus dan pipinya kemerahan. Cantik. Ia sungguh cantik. Saya sekelas dengan gadis itu saat kami masih sama-sama sebelas tahun.
Saya tak pernah sadar ia mencintai saya, hingga suatu hari dia menyelipkan sebuah puisi dalam buku sejarah yang saya pinjamkan padanya. Setelah membaca puisi itu, sadarlah saya. Dia mencintai saya, dan hal itu memang diakuinya kelak. Nanti, delapan hari sesudahnya, Josie mengakui cintanya sambil berlinangan airmata. Dia bilang dia tahu itu salah, tapi dia cinta pada saya. Mula-mula saya ingin marah, waktu itu saya berpikir “brengsek, saya memang bukan perempuan tapi tak mungkin saya menyukai anak perempuan”. Dugaan saya salah. Saya kemudian membalas cinta Josie.
Saya bersama-sama Josie hingga lima bulan kemudian, masa-masa yang manis sekali, dan setelah itu Josie beralih hati pada Regan, anak laki-laki guru musik yang pandai memainkan trombon. Rupanya di mata Josie saya memang hanya seorang anak laki-laki yang menarik, dan bisa ditinggalkan kalau ada anak lain yang lebih menarik hati. Saya tidak marah padanya. Saya santai saja, karena toh banyak gadis lain yang diam-diam menaruh hati pada saya, di masa-masa ketika kami baru saja mengenal cinta dan masih berpikir dengan menggunakan amygdala.
Cinta lain yang patut dikenang adalah Katja, perempuan keturunan Jerman yang saya temui semasa kuliah di jurusan seni rupa. Selepas sekolah Ain dan Erid akhirnya membolehkan saya mengambil jurusan ini, setelah saya merajuk seperti anak kecil selama berminggu-minggu. Katja sendiri mengambil fakultas hukum, tapi selalu meluangkan waktu untuk bergabung dengan pertunjukan opera kampus. Saya mengingatnya dalam pertunjukan tragedik Elegie für Junge Liebende (Elegy for Young Lovers) karya Hans Werner Henze yang diadakan musim dingin lalu. Dalam opera itu dia berperan sebagai Elisabeth Zimmer, kekasih penyair Gregor Mittenhofer yang berselingkuh dengan Toni Reischmann.
Elisabeth tak tega meninggalkan Mittenhofer yang membujuknya untuk tinggal sehari lagi saja sampai karya puisinya dapat rampung. Tapi kemudian dia pergi mendaki gunung Hammerhorn bersama Toni, dan mati diamuk badai. Sebelum mati bersama, “pasangan kekasih tidak sah” itu berpura-pura bahwa sebenarnya mereka telah menikah empat-puluh tahun lalu dan mengenang masa-masa yang sebenarnya tak pernah ada.
Katja bermain dengan sangat bagus. Airmata penonton wanita membanjir dengan sukses saat adegan terakhir Elisabeth dan Toni. Mereka bertepuk tangan penuh haru dan kekaguman. Saya pun mengagumi akting dan suara Katja. Saya menyukainya. Dari menyukainya jadi mencintainya. Dari mencintainya jadi memilikinya. Padahal saat itu dia juga adalah milik seorang lelaki bernama Thomas Kilburn.
Tapi kemudian saya merasa tak enak. Saya merasa ini bukan hal yang baik. Bila diteruskan barangkali saya dan Katja akan mati juga diamuk badai seperti Elisabeth dan Toni Reischmann. Bedanya, kami akan mati dalam kunyahan badai caci-maki dan penolakan sosial. Saya tahu keluarga Katja adalah kumpulan dari orang-orang konservatif, homophobia dan penjunjung tinggi kesakralan hubungan pria-wanita. Apa jadinya pula jika Katja lulus menjadi seorang calon hakim nanti? Isu homoseksualitas akan mendepaknya dari kesempatan untuk bekerja di berbagai birokrasi. Maka saya tinggalkan dia dengan ikhlas.
Dengar-dengar, sekarang dia kembali pada Thomas Kilburn dan telah ditunangkan dengannya. Saya ikhlas, sungguh. Karena hal yang paling saya harapkan adalah kebahagiaannya. Saya yakin saya adalah manusia kesatria yang rela menceburkan diri ke dalam lautan darah mendidih agar sang puteri kekasihnya bisa diselamatkan, bertahan hidup dan berbahagia dengan sang pangeran, calon yang sudah seharusnya. Oh, diancuk. Inilah opera sabun milik kami sendiri. Yang kami mainkan penuh kesadaran dan akhirnya kami bubarkan sendiri. Sekarang layar telah dicopot dan panggung telah dibongkar.
Saya sendiri akhirnya luntang-lantung sendirian dalam hidup saya sebagai mahasiswa seni rupa. Sampai akhirnya saya bertemu Alicia Hill.
3. Dalam Derita Theologicophobia
“Ah! Je ris de me voir,
Si be-e-e-elle en ce miroir”
“Hentikan, Ali. Suaramu membuat saya sinting,”
“Si be-e-e-e-e-e-elle... en ce miroir..”
“Ali. Saya cekik batang tenggorokmu kalau kau tak mau berhenti,”
“Si be-e-e-e-e....akh!” suara Ali terhenti. Saya cekik lehernya. Ali megap-megap, lalu memukul leherku dengan marah,
“Sundal! Kenapa kau pukul saya?” saya lepaskan cekikanku dari lehernya. Ali memukulku sekali lagi, kali ini di dagu.
“Kenapa kau cekik saya?” balasnya nyalang. Matanya cokelat kemerahan, memandangku dengan sengit.
“Kau sendiri yang minta!”
“Apa? Diancuk!”
“Saya bilang saya akan cekik batang tenggorokmu kalau kau tak mau berhenti, kau tak mau berhenti. Berarti kau minta dicekik,”
“Bangsat,”
“Terserah,”
“Homo,”
“Sundal,”
Hentikan. Pertengkaran saya dengan Ali tak akan habis sampai salah satu di antara kami kelelahan dan mengalah. Biasanya itu adalah saya. Saya tak biasa bertengkar lama-lama, sedangkan kekuatan mulut perempuan Ali sungguh menakjubkan. Dia bisa saja mencerocos, menyumpah-serapah dan memaki-maki orang selama dua jam nonstop tanpa kehabisan kata-kata kotor atau umpatan. Bila dirasanya kurang cukup, aksi pukul-memukul dan ludah-meludah pun dilakoninya seperti wanita barbar yang terlatih. Tapi hal terakhir sangat jarang ia lakukan. Karena dia bilang sedikit-banyak dia masih “beradab”.
Alicia Hill barangkali adalah sahabat saya yang paling tidak waras dan gemblung di muka bumi ini. Dia penderita theologicophobia, ketakutan impulsif pada agama. Barangkali itu sebabnya dia tak mau menganut agama apa-apa dan selalu menjerit histeris seolah mau pingsan tatkala ada yang mengajaknya misa ke gereja atau menawarinya menjadi seorang Hindu. Dulu saya pernah mengira itu cuma karang-karangannya semata. Bilang saja kalau malas beribadah, cela saya nyinyir waktu itu. Tapi lama-lama akhirnya saya percaya juga. Percaya bahwa gadis ini benar-benar tidak waras dan menderita phobia agama.
Saya mengenalnya lewat salah satu teman laki-laki saya yang pernah jadi kekasihnya. Ali sendiri adalah junior saya, setahun lebih muda dan setingkat di bawah saya. Setelah cukup lama bersama kami akrab juga, tapi hubungan kami tak pernah berkembang menjadi hubungan cinta. Inilah perempuan yang ditakdirkan untuk menjadi sahabat terbaik dan terdekat saya selamanya.
Mengenai phobia agamanya, akhirnya saya tak ambil pusing. Saya sendiri juga tak punya agama pasti. Tapi saya percaya pada Tuhan. Terus terang saya tak pernah menyalahkan Tuhan walau Tuan dan Nyonya Roche, ayah dan ibu kandung saya, dipisahkan-Nya dari saya ketika saya masih terlalu muda. Saya rajin berdoa, walaupun doa saya sederhana. Saya berdoa dalam bahasa Inggris, tanpa iringan nyanyi-nyanyian paduan suara dan saya lakukan dalam kesendirian.
Saya mencoba berkomunikasi dengan-Nya, ingin menanyakan apakah Dia marah karena saya mencintai perempuan karena saya merasa sebagian besar dari diri saya adalah lelaki. Apakah Dia akan membakar saya di dasar neraka karena hal ini atau tidak. Apakah Dia menyenangi doa-doa saya. Bagaimana kabarnya kedua orangtua saya. Apakah saya di mata-Nya adalah seorang pendosa atau pendoa. Setiap malam sebelum berangkat tidur, sambil mengenakan kaus kaki, saya berdoa lagi, mensyukuri hidup dan tak lupa mohon ampun atas dosa saya di siang harinya. Itulah ibadah saya.
Suatu hari ketika saya hendak mengangkut kuda-kuda kanvas yang baru saya pergunakan melukis di luar ke dalam apartemen, saya dicegat oleh Bapa Williem, tetangga saya yang seorang pastor sekaligus misionaris. Dia juga tetangga saya sewaktu masih tinggal bersama pasangan Erkind. Ain dulu sering mengundangnya makan siang dengan roti dan salad organik buatan sendiri. Setelah basa-basi sebentar, dia menanyakan kenapa saya tak pernah mengikuti misa di gerejanya.
“Wah, Bapa. Saya bukan Katolik,” jawab saya, menurunkan kuda-kuda kanvas dari pelukan.
“Benarkah? Tapi ayah-ibumu Katolik,” katanya, mungkin sambil membayangkan Ain dan Erid. Membayangkan roti segar buatan Ain.
“Tapi saya bukan,” senyum saya. Bapa Williem memandangi saya dengan mata penasaran.
“Muslimkah dirimu?” koreknya waswas.
“Bukan,”
“Lantas? Kau umat siapa?”
“Saya umat Tuhan, Bapa,”
“Apa ibadahmu?” tanyanya
“Saya berdoa setiap kali mau tidur, sebelum makan, saat menyikat gigi dan lain-lain. Saya berusaha menjadi orang yang baik, bekerja dan belajar sesuai waktu, dan mensyukuri hidup. Semua itu saya lakukan untuk balas budi. Pada Tuhan,”
“Tuhanmu yang mana?” tanya Bapa Williem tak puas
“Tuhan kita semua. Tuhan seluruh umat manusia di alam raya, Bapa,”
“Siapa nama Tuhanmu? Tuhan Bapa dan Yesus Kristus? Atau Tuhan orang muslim? Atau Tuhan orang Hindu? Buddha? Stoa? Pemuja iblis?” cecarnya belum puas-puas juga. Saya mulai jengkel.
“Tuhan kita semua, Bapa. Yang menciptakan saya ini nih, yang menciptakan Bapa itu tuh,” lagipula saya tak pernah memuja iblis, Bapa jangan sembarangan! Homunculus dalam kepalaku berteriak menambahkan.
“Oh, Francesca,” ratapnya. Wah. Bila dia memanggil saya seperti itu lima tahun ke belakang, pasti hidungnya sudah saya patahkan.
“Ikutlah bersama kami, Nak. Extra ecclesiam nulla salus, tak ada keselamatan di luar gereja,” bujuknya, membuat saya agak terusik.
“Bapa, terima-kasih. Tapi saya punya Tuhan yang universal. Saya belum mau terikat pada agama apa-apa. Bagi saya ini cukuplah,” tandas saya, mengangkut kuda-kuda kanvas dan mengisyaratkan bahwa saya hendak melanjutkan perjalanan ke dalam apartemen. Bapa Williem memandangiku, lalu membuat tanda salib berkali-kali di kening, dada dan kedua pundaknya, sambil berkomat-kamit. Mungkin dia sedang memohonkan pengampunan Tuhan untukku, atau memohonkan pengusiran atas iblis dalam tubuhku. Saya hanya tersenyum melihatnya.
Setidaknya, Bapa, saya tidak menderita dalam ketakutan akan agama. Saya masih punya Tuhan. Dan Tuhan saya adalah Tuhan yang menembus batas-batas perbedaan agama.
4. Megnone
Suatu hari dalam siraman cahaya matahari yang tertahan naungan pohon halaman kampus, saya berjongkok dan menyeruti pensil sketsa saya di atas rerumputan, lalu sesosok laki-laki menarik perhatian saya. Dari jauh saya melihat laki-laki itu mendekat, lalu saya bersorak girang. Itu Luther Kuhn, mahasiswa fotografi yang dikenal di kampus sebagai “si Scarface”. Dulu saya dan dia pernah berkelahi di restoran Cina Cheng’s. Gara-garanya saya iseng mengomentari dia mirip Johannes Kepler. Kuhn rupanya tak bodoh, dia tahu Kepler sering mengira dirinya adalah anjing, Kuhn mengira saya mengatainya kayak anjing. Dia marah besar. Dan karena dia mengira saya laki-laki, dia langsung menyeruduk seperti banteng senewen melihat pantat matador. Padahal, sebenarnya dia memang mirip Johannes Kepler.
Dalam perkelahian itu saya tergoda ingin memotong hidungnya dengan sumpit, supaya dia menggantinya dengan hidung palsu dan menjadi mirip Tycho Brahe juga sekalian. Tapi tak saya lakukan. Hidungnya masih utuh dan satu-satunya bekas yang saya tinggalkan cuma sebuah codet panjang memalukan di pelipis kanannya, bekas hantaman tinju saya yang bercincin. Codet itu masih ada hingga kini. Itu alasan kenapa ia dijuluki Scarface. Si muka codet, ha-ha.
“Halo, Codet.” sapa saya, menyeringai dari. Kuhn meradang mendengarnya. Ia melangkah sambil balas menyeringai.
“Hai, perempuan homo,” jawabnya kurang ajar.
“Diam, Codet. Mau saya buat codetmu itu jadi simetris kiri-kanan?” sahut saya riang, mengabaikan tatapan Kuhn yang seolah menelanjangi saya dengan pertanyaan “kau sebenarnya bukan perempuan, kan?”. Dia tak pernah terima kenyataan kalau saya menumbangkannya dalam perkelahian di Cheng’s hampir setahun lalu, dan memberinya cinderamata indah di pelipis kanannya.
“Memotret apa kau barusan, Kepler?”
“Memotret orang-orang homo,” dia lalu membidikkan kameranya itu pada saya dan memotret. Ah, kekurangajaran yang manis. Dasar homophobia kecil yang suka bertingkah. Saya tertawa,
“Sekali lagi kau bilang saya homo, saya patahkan lehermu, Kuhn,”
Kuhn tertawa sengak. Dia pria berperawakan tinggi besar seperti begundal militer dan lumayan ganteng, kalau hidup di zaman Perang Dunia barangkali dia pantas menjadi perwira Spetsnaz. Tapi dia cinta Swiss. Padahal dia sama sekali tidak punya sepercik pun darah turunan Swiss. Dia cuma pernah tinggal setahun di Munchen dalam program pertukaran pelajar. Dia bahkan selalu menyuruh pelayan kedai kopi membikin pola lambang bendera Swiss di atas busa cappuccinonya. Pelayan itu mau saja membikinkan, tapi saya yakin dalam kepalanya dia pasti berpikir kalau Kuhn adalah seorang fasis sinting.
“Erkind, lihatlah di sebelah situ. Ada perempuan cantik,” godanya, menurunkan kamera dan melempar picingan mata ke arah pohon jacaranda. Ada seorang gadis yang saya ketahui adalah Rosseau, anak dari jurusan arsitektur.
“Rosseau? Bukannya minggu lalu kau kencan dengan dia?” tanyaku. Kuhn menatapku tak sabaran,
“Bukan dia, goblok! Arah jam sebelas, sebelas!” tudingnya dengan telunjuk kanan, ke arah yang saya tahu seharusnya adalah arah jam sepuluh. Si goblok yang mengatai orang lain goblok.
“Babi, itu arah jam sepuluh! Jangan menyebutku goblok, Goblok!” serapahku marah. Kuhn tak memedulikanku, telunjuknya masih menuding lurus ke arah jam sepuluh.
“Lihat itu! Siapa dia? Belum pernah kulihat sebelumnya,” dan saya pun terpaksa mengikuti arah telunjuknya sekali lagi. Dan ada seorang gadis duduk memeluk sebuah buku gambar. Gadis itu memang anak baru. Tak pernah kulihat sebelumnya. Dia sangat manis. Rambutnya curly sue, ikal, bergelombang dengan warna pirang yang hampir-hampir mirip warna es krim vanila. Cantik, matanya dari kejauhan terlihat berwarna cokelat kayu ek. Dia tampak seperti gambaran Manon Gropius menjelang akhir hayatnya. Muda, rapuh dan tak bersalah. Saya tertarik melihatnya, tapi agak menahan diri.
“Cantik,” komentarku pendek, berusaha tampak tak begitu peduli. Kuhn terkekeh,
“Jangan pura-pura. Kau naksir padanya. Ya, kan?” dia meninju bahuku, yang segera kutahan dengan kepalan tanganku.
* * * *
Gadis itu bernama Lucy. Lucy Scott Dunsten. Juniorku di kelas seni. Dan betapa bahagianya saya saat dosen-dosen seni menitipkannya pada saya untuk dibimbing.
Saya mengingat kutipan W. Somerset Maugham, “kecantikan adalah sebuah kenikmatan, sesuatu yang sama sederhananya dengan kelaparan, di sana benar-benar tidak ada hal yang bisa dikatakan,” Kalimat-kalimat itu seolah menjadi tato panjang yang merajahi tubuh Lucy. Memang begitulah kecantikan seorang Lucy Scott Dunsten. Sederhana saja, tak terkatakan, sekaligus nikmat dirasakan. Saya terpesona padanya seperti serdadu yang terpesona pada Megnone, panter betina dalam cerpen Honore de Balzac.
Ingin saya perlakukan gadis itu seperti Megnone. Seperti panter betina berbulu keemasan itu. Ingin saya amat-amati dengan cermat bintik rosette di tubuhnya, membelainya, menggaruk kupingnya, dan sayang sekali Lucy tidak punya ekor bergelang-gelang hitam seperti yang panter betina itu punya. Ingin saya gambar tubuhnya dalam berbagai pose. Bergelung seperti anak kucing mengantuk atau melengkungkan tubuh dengan marah, menunjukkan taring dan cakar. Saya yakin dia akan kelihatan cantik di atas kertas, dalam pose apapun.
“Lucy Scott Dunsten. Lysergic acid diethylamide. Lucy in The Sky With Diamonds. Semuanya berinisial LSD,” Ali merobek halaman-halaman koran dan menempelkannya ke dinding satu-persatu, lalu melaburnya dengan cat putih untuk membuat poster.
“Kenapa?”
“Kau masih memakai LSD, kaubilang kau suka menyanyikan LSD waktu masih sekolah dasar. Dan sekarang kau mau memacari nona cantik bernama LSD. Kau kena kutukan LSD!” teriaknya edan, mengguyurkan cat putih dalam kaleng langsung ke dinding. Saya menyampulkan kuas ke kepalanya.
“Kau yang terkutuk, Ali.”
“Kau yang terkutuk, Homo,”
“Bilang sekali lagi, Sundal! Kugantung kau dan kubikin jadi dekorasi iblis terbang di langit-langit panggung drama,”
5. Lucy in The Sky With Diamonds
Setelah beberapa minggu, saya dan Lucy semakin dekat. Sesekali saya bawa dia ke Luna Park, menemaninya menggambar carrousel. Gambarnya jelek, tapi kami tetap senang. Tak pernah saya tolak pula rengekannya untuk naik bianglala, supaya dia bisa menggambar pemandangan dari atas sekaligus mengintip orang berciuman di bianglala lain. Pulangnya saya belikan dia strawberry fondue di Max Brenner Cafe, saya suapi sementara ia mencoreti cangkir-cangkir suckao dengan spidol.
Hari Sabtu kami ke Bloomeries. Saya bisa melihatnya berganti-ganti pakaian di toko itu. Memakai baju-celana monyet, lalu gaun pendek, lalu gaun panjang, lalu kimono, lalu mantel mandi, lalu baju seragam perawat. Saya memutuskan ia paling cantik dengan gaun panjang berwarna hijau anise, lalu membelikannya. Saya belikan juga dia krayon dan lusinan pensil warna, saya bawa ke apartemen dan mengajarinya memperbaiki gambar-gambarnya.
Suatu malam di apartemen saya, kami pernah lepas kendali. Mula-mula kami hanya saling berpandang-pandangan, lalu bercium-ciuman ganas dan akhirnya saling menerkam dan bergumul seperti dua anak macan yang belajar saling memangsa. Saya tidak begitu sadar, bahkan pandangan saya saja tidak jelas. Apakah saya sedang di bawah pengaruh LSD? Kurang tahu, rasa-rasanya hari itu saya tidak menggunakan apa-apa. Tapi Lucy terlihat bagai sebuah lukisan surealis di mata saya malam itu. Matanya yang biru, bibirnya yang merah, lanskap warna yang berputar-putar. Barangkali saya mabuk, tapi rasa-rasanya saya tidak pernah lagi minum sejak dua hari kemarin. Saya ingin berhenti. Tapi kenapa otak saya seolah sedang berkabut oleh alkohol dan obat-obatan?
Pada masa-masa depresi saya di usia awal 20-an, saya memang mengonsumsi LSD. Ali juga dulu menggunakannya, kepingan-kepingan kertas kecil berwarna-warni itu, tiket berenang ke kolam halusinasi yang menggairahkan. Sekali menggunakannya, saya bisa tak sadarkan diri selama setengah hari. Lalu merasa bahagia, penuh inspirasi dan menghabiskan jam-jam berikutnya dengan melukis dan membuat puluhan sketsa. Saya membutuhkan LSD sebagai lensa kaleidoskopis bagi mata saya. Sebagai pembilas otak saya dari macam-macam pikiran yang membuntukan.
Betapa hiburan yang menyenangkan, melihat ledakan warna-warna berbentuk geometris, dinding apartemenku yang tiba-tiba berdenyut-denyut dalam napas yang teratur. Tapi sejak mengenal Lucy saya hampir tak pernah menggunakannya lagi. Karena toh apalah yang bisa membuat saya depresi jika saya menemukan seseorang yang begitu berarti seperti dia.
Esoknya, saya mengantar Lucy pulang tanpa saling bicara. Lalu Lucy mengirimiku surat. Dalam suratnya dia mengaku sangat malu, ragu, agak hina, dan bertanya-tanya.
“Apakah ini bisa dibenarkan, Frank?” tulisnya. “Saya belum pernah mengalami hal seperti ini. Saya belum pernah sedemikian cintanya pada seorang perempuan seperti ini. Tapi saya takut, Frank. Oh, setan, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?” lalu tulisan dia berubah menjadi cakar-cakaran huruf, frustrasi, tintanya sedikit leleh di beberapa bagian, luntur oleh airmata. Saya tak bisa menyalahkannya. Saya tak bisa begitu saja berkilah bahwa sekalipun tubuh saya perempuan sebenarnya saya laki-laki dan Lucy tak perlu khawatir ia terjerumus menjadi seorang Sappho. Keadaan dan kenyataan akan mengingkari kata-kata saya itu.
Saya mencintai Lucy. Lebih dari rasa cinta saya pada Katja, pada Sophie, bahkan pada Josie. Belum pernah saya mengasihi seseorang seperti kasih saya pada Lucy.
Saya ingin membeli borgol berantai panjang dan memakaikannya pada tangan kami berdua. Biar kami mempergunakan kamar mandi bersama-sama, kamar makan bersama-sama, ke sekolah bersama-sama dan tertidur di bus bersama-sama. Biar kami tak pernah terpisah dan borgol itu jadi baliho yang meneriakkan kalimat “hei, lihatlah, saya dan Lucy saling memiliki hingga ke sel-sel terkecil tubuh kami”
Saya ingin hidup bersamanya selama yang saya bisa.
6. Pengakuan
Usaha gigih saya melawan kodrat ditampar Tuhan dengan telak di usia saya yang ke 22. Di saat saya sudah hampir berpikir-pikir mengenai sebuah lamaran untuk Lucy, suatu hari gadis itu datang pada saya dengan bersimbah airmata. Dia memeluk saya erat seolah takut saya akan terbang pergi jika ia lepaskan.
“Kenapa, cherie?”
Dan mengalirlah pengakuan terbata-bata dari mulutnya, di sela sedu sedannya. Lucy hamil. Dua minggu usia janin itu. Saya berusaha mencerna apa yang ia katakan baik-baik. Berusaha mencari titik tempat semua itu bisa saya pahami seutuhnya. Reaksi pertama saya adalah kemarahan yang menggebu.
“Seseorang memerkosamu? Katakan siapa yang melakukannya padamu! Akan saya bunuh laki-laki itu!” saya melepas pelukan Lucy dan melihat wajahnya,
“Tidak, Frank,” bisiknya lirih, menunduk, tampak sangat malu,
“Saya tidak diperkosa. Maafkan saya,” lirihnya, dan saya tak tahu harus berbuat apa, kecuali membiarkannya kembali memelukku. Saya terdiam,
“Saya takut, Frank,” isak Lucy, airmatanya berguguran membasahi bahuku. Saya meraih kepalanya, menaruhnya di pangkuan saya dan membelai rambutnya. Hati saya sakit. Saya ingin ikut menangis, tapi tak bisa. Ada bagian dalam diri saya yang melarangnya. Bagaimana hati tidak sakit jika melihat orang yang dicintai sedang menderita?
“Lucy,” panggil saya lembut, serak, sambil terus membelai-belai rambutnya yang halus dan dingin. Lucy tersedu.
“Katakan pada saya, siapa yang melakukannya padamu?” tanya saya selunak mungkin. Sisi keperempuanan yang masih saya miliki membuat saya tak bisa marah padanya. Saya harus tetap memperlakukannya dengan lembut walau ia sudah menginjak-injak kepercayaan saya.
“Bukan siapa-siapa,” isaknya
“Katakanlah, Lucy. Tidak apa-apa, katakan pada saya,”
“Tidak,”
“Katakanlah, saya mohon. Tidak apa-apa, saya takkan menyakiti siapa-siapa,”
“Kuhn...” jawab Lucy, tergagap,
“Ayah bayi ini adalah Luther Kuhn,”
* * * *
Malam itu Lucy tertidur di apartemen saya. Selagi ia tertidur saya keluar, mengunci apartemen, menyetir menuju rumah keluarga Kuhn. Saya panggil laki-laki itu keluar dan saya tinju di jalanan. Saya tinju ia hingga kulit tangan saya robek. Darah mengucur-ngucur dari kami berdua. Dia tak melawan karena tahu apa yang sudah ia lakukan.
“Keparat kau ini, Kuhn. Saya sungguh kecewa padamu,”
“Ya. Saya tahu.” jawabnya pasrah, setelah membiarkan saya mengamuk memukulinya.
“Kau tak boleh menikahi Lucy. Biar saya yang bertanggung jawab atas perbuatanmu. Enyahlah dari hidup kami!” tandas saya, meninggalkan laki-laki itu dan bersumpah takkan mau mengingatnya lagi seumur hidup. Saya sungguh kecewa padanya.
Saya pulang setelah mampir ke rumah sakit untuk menjahit luka di tangan saya. Lucy masih terlelap. Saya tak tahu harus bersikap bagaimana pada perempuan ini. Setelah mondar-mandir gelisah hingga subuh hari, saya akhirnya tertidur di samping Lucy. Paginya, dia sudah menghilang.
* * * *
Lucy tak pernah muncul lagi. Dia tak pernah datang ke kuliah-kuliah. Tak pernah datang ke apartemenku. Tak pernah terlihat di empat umum selama berminggu-minggu. Pintu rumahnya selalu tertutup rapat, dijagai orangtua Lucy yang tak pernah menyukai kehadiranku. Sudah berpuluh kali saya mencoba menghubungi Lucy, mendatangi rumahnya, namun pasangan suami-istri itu selalu menutup telepon dan mengusirku pergi, atau bahkan mengancam akan memanggil polisi. Saya dipisahkan paksa dari Lucy.
Maka saya memutuskan untuk menulis surat untuknya. Akan saya taruh di kotak posnya dan andaikata surat itu dirampas juga oleh ayah-ibunya, maka tak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa pada Tuhan.
Lucy, pertama kali saya tahu kau hamil, saya tak bisa memikirkan apa-apa. Kepala saya kosong, rasanya saya ingin menangis. Tidak, saya bukan menangis karena kehadiran bayi itu. Saya sama sekali tak menyesalkan datangnya ia. Tolong jangan salah mengira. Saya tetap mencintaimu walau kau tengah mengandung anak Kuhn. Hanya saja saya merasa sedih, Lucy. Saya tak bisa memberimu anak seperti yang bisa Kuhn lakukan, hanya hal itu saja yang membuat saya kecewa. Bagaimanapun saya berusaha, kebahagiaan yang bisa saya berikan tak pernah utuh. Saya juga belum bisa membuatmu merasakan hubungan yang bisa diterima dan dirayakan semua orang.
Beginilah nasib manusia-manusia seperti saya, Lucy. Saya bukan laki-laki, tapi juga bukan perempuan, tak diterima di mana-mana. Manusia-manusia seperti saya pada akhirnya hanya bisa merasakan kesunyian, menonton dunia yang dimiliki para manusia “normal” tapi tetap tak bisa menjangkau dan menjamahnya. Saya memimpikan suatu hari saya bisa mencintaimu dengan bebas, saya memimpikan suatu hari bisa menyentuhmu tanpa rasa berdosa, tanpa takut akan siksa neraka. Saya memimpikan suatu hari kita bisa memiliki rumah bersama, mengajak anak-anak dan anjing kita berjalan-jalan setiap pagi. Saya memimpikannya, setelah selama ini saya tak pernah bisa mendapatkan semua itu.
Lucy, kawinlah dengan saya. Saya mohon. Mari ikut saya, saya bisa membawamu pergi jauh dari sini. Saya mohon.
Frankie-mu
Malam-malam buta saya menyetir sendirian ke rumah Lucy, turun, meletakkan surat itu dalam kotak-posnya dan berusaha tidak menoleh ke arah jendela kamarnya. Tapi akhirnya saya lakukan hal itu. Saya menoleh, dan mendapati jendela itu tertutup rapat oleh korden. Sesaat saya mencemaskan Lucy, mencemaskan bayinya. Saya berdoa pada Tuhan, semoga keluarganya tidak memaksa Lucy untuk menggugurkan bayi itu. Saya berpikir-pikir sebentar untuk berkemah di halaman rumah ini dan menjaga Lucy, tapi kemudian saya merasa konyol dan sedih, lalu pulang.
Keesokan harinya, Lucy minggat ke Rusia.
* * * *
“Lucy pergi ke rumah bibinya di Rusia!” hanya itu informasi yang saya dapatkan, dalam nada bentakan, dari ibunya saat saya menelepon ke rumah. Saya terkesiap, seluruh tubuh saya melemas dan dengan terburu-buru saya menelepon kembali. Tanpa menunggu, saya langsung menyergah,
“Apakah…apa dia sempat membuka kotak pos pagi ini dan membaca surat untuknya? Tolonglah, Nyonya!” Sunyi. Lalu terdengar suara meludah. Telepon ditutup. Saya tercenung kembali.
Lucy pergi ke rumah bibinya di Rusia. Rusia. Astaga, Rusia! Di belahan Rusia mana saya bisa menemukan seorang gadis bernama Lucy Scott Dunsten? Kenapa kaupilih Rusia, Lucy? Sengajakah dirimu supaya saya tak bisa melacak keberadaanmu?
Tapi kemudian muncul kecurigaan saya, keluarganyalah yang telah mendepak Lucy ke Rusia. Atau ibunya berbohong mengatakan Lucy ada di Rusia, padahal ia hanya pindah ke Queensland?
Saya terhenyak, jatuh menggelosor di samping telepon, mata saya mulai berkaca-kaca. Lalu airmata saya menetes dan tak butuh waktu lama, saya menangis sesenggukan.
7. Masa Empat Belas Tahun
Tak perlu lagi melihat kalender. Saya sudah tahu. Empat belas tahun berlalu. Kini saya telah berkembang menjadi manusia dewasa berusia tiga puluh enam. Sudah cukup lama saya mengembara mencari tempat tinggal. Mula-mula saya mencoba tinggal di Mechlin, Belgia. Lalu selama lima tahun seterusnya saya meloncat-loncat dari Salisbury ke Nottingham, lompat lagi ke Irlandia di Limerick dan Killarney. Sampai akhirnya saya malah memutuskan untuk menetap sementara di New Jersey, Amerika. Tepatnya di Asbury Park.
Dan Lucy sudah tiada. Tanggal empat Juli lima tahun silam adalah hari terkelam dalam sejarah kehidupan saya, ketika sepucuk surat bercap pos Jerman terkirim ke apartemen saya di Perth. Isinya surat wasiat Lucy yang meminta saya membawa anak kami dari sana karena jika surat ini telah sampai ke tangan saya, maka riwayatnya sebagai manusia hidup telah berakhir. Ia menderita karena sakit yang tak mau ia ungkapkan dan tanda-tanda awal alzheimer yang membuatnya kadang-kadang melupakan segalanya. Dus, hati saya terobek-robek saat Lucy menulis kata-kata “saya sekarat” dan “tidak lama lagi”. Sembilan tahun saya menunggunya dan yang pulang pada saya hanyalah kabar yang sungguh gelap.
Sesegera mungkin saya terbang ke Hamburg, namun yang saya dapatkan hanya sisa abu kremasi kekasih saya. Anak kami dibawa pergi oleh seorang tetangga yang mengurusi Lucy semasa sakitnya, entah ke mana. Karena putus asa, saya memutuskan untuk meninggalkan Perth, mengembara ke mana-mana hingga tiba di Asbury Park.
Saya menyewa rumah dan membuka Frank’s, sebuah deli di Main Street. Saya menampung Cathy, perempuan berusia 56 tahun dan Luisa, gadis 18 tahun, sebagai tukang masak dan waitress di Frank’s. Orang-orang berdatangan untuk sarapan telur dadar buatan Cathy yang lezat, bersama pancake panas, selai buatan sendiri dan butter sebesar dadu. Para pemuda mengunjungi Frank’s untuk melihat Luisa. Apartemen lama saya di Perth tak pernah dipindahtangankan, untuk sementara sepupu Ali yang menempatinya.
Saya sendiri berusaha menghabiskan kehidupan saya di New Jersey dengan santai. Kadang saya mampir ke Berkeley Sweet Shops di sepanjang Seaside Heights hanya untuk membeli saltwater taffy rasa pisang, lalu menyetir ke Cape May dan melukis rumah-rumah bergaya Victoria di sana.
Sesekali saya juga suka mengunjungi Margate City untuk melihat Lucy The Elephant, sebuah bangunan berbentuk gajah Asia yang dibuka untuk tur. Saya pernah bertemu arsitek perenovasinya, Margaret Westfield, yang mengatakan bahwa sesungguhnya Lucy adalah gajah jantan karena ia memiliki gading besar dan panjang. Padahal seharusnya gajah Asia betina tak memiliki itu. Tapi saya katakan bahwa jantan atau betina, laki-laki atau perempuan bukanlah hal yang penting. Yang penting, Lucy si Gajah adalah hiburan kesayangan orang-orang Margate City, semua orang di sana mencintainya. Itu saja. Dan sebaiknya manusia pun begitu, pikir saya. Tak peduli apakah dia laki-laki, perempuan atau bukan keduanya, seharusnya ia juga berhak dicintai dan mencintai.
Saya juga tak pernah melupakan Lucy yang lain, Lucy Scott Dunsten. Itulah kenangan terkuat yang pernah saya miliki seumur hidup. Dulu saya mengira kehidupan saya tak banyak berubah sepeninggal Lucy. Saya masih dipanggil Frank, masih percaya pada Tuhan, masih menjalankan rutinitas doa yang kekanakan, masih suka melukis dan masih waras. Sepeninggal Lucy saya tak lantas menjadi gila. Tapi tanpa sadar ternyata semua itu salah total belaka.
Saya masih mencintainya, meskipun saya tahu bahwa mencintai orang mati adalah perilaku yang menyiksa diri sendiri. Saya merasa melankolis dan bodoh sekaligus, merasa telah mendramatisir hal ini terlalu dalam. Tapi jika cinta sejati itu memang ada, maka Lucylah cinta yang paling mendekati kesejatian hidup bagi saya.
8. Sebuah Panggilan
“Frankie!” jerit seorang gadis dalam sebuah panggilan telepon pagi ini. Ali.
“Ali?” saya hampir tersedak kopi mendengar suaranya,
“Frankie, ini darurat. Sepupuku bilang ada kiriman paket dan surat untukmu di apartemen. Cap pos Jerman. Atas nama Mariya Rusalka Erkind. Itu anakmu, bukan?” burunya, membuat saya tersengat. Saya hampir menumpahkan minuman saya ke atas meja telepon.
“Betulkah?” gemetar tangan saya, menyingkirkan kertas-kertas catatan nomor telepon yang terperciki cairan kopi.
“Kalau kausempat, datanglah ke Perth. Saya akan berada di sana juga, Frank,”
“Ya, ya. Saya akan pergi malam ini juga!”
* * * *
Saya membuka paket tipis yang terbungkus kertas cokelat itu dengan tergesa-gesa, disaksikan Ali dan Marko, sepupunya. Pemuda itu hampir berlari menyambutku ketika saya datang, dan menyerahkan paket itu bahkan sebelum saya sempat mengucapkan sesuatu.
“Apa isinya, Frankie?” tanya Ali sambil mendekat padaku. Kutarik keluar isinya. Dua lembar kertas bergambar. Dua buah lukisan. Gambar pertama saya kenali sebagai gambar buatan Lucy. Sebuah figur Anima Sola yang sedikit berantakan. Wanita dalam api penyucian yang berkobar. Simbol kesepian, kesedihan, dan kesendirian yang memedihkan hati saya.
Gambar kedua dibuat di atas selembar kertas tebal. Latarnya dilabur cat air berwarna hitam, ditempeli stiker-stiker emas dan permata mainan. Lalu di tengah-tengah, sang pusat badai mengenakan gaun biru air, berambut pirang panjang bergelombang dan tersenyum. Ah. Lucy in the sky with diamonds. Saya menjauhkan gambar itu sebelum rusak oleh airmata saya yang meleleh. Ali mengusap-usap bahu saya dengan lembut, berusaha menyabarkan dan menenangkan saya. Ia lalu menyodorkan sebuah amplop surat.
Tiba-tiba saya merasa tua dan tak sanggup melakukan apa-apa, saat meraih dan membuka sampul surat yang dikirim bersama kedua gambar itu.
Ayah tersayang,
Ini saya, Mariya Rusalka Erkind. Saya adalah putrimu. Saya mengirimimu surat karena sudah lama saya ingin melakukannya. Ayah, umur saya sekarang sudah tiga belas tahun, sebentar lagi empat belas. Ayah, saya mirip Ibu. Oh Ayah, saya bingung ingin bercerita tentang apa dulu.
Ayah, Ibu sudah meninggal, apa Ayah sudah tahu? Sekarang saya ada di Dresden, saya dipungut oleh ibu baru saya dan dibawa kemari. Sebenarnya saya ingin diambil olehmu, tapi orang-orang bilang lebih baik saya tinggal di sini. Ayah, saya punya banyak teman di sini, sekolah saya menyenangkan. Saya ikut girl scout, saya jadi pemimpin kelompok debat dan saya ikut klub melukis. Orangtua asuh saya mengajari saya main piano juga.
Gambar yang saya kirim adalah gambar buatan saya dan buatan Ibu. Ibu selalu berusaha mengajari saya menggambar walaupun gambar buatannya sendiri tidak terlalu bagus. Dia selalu mengeluh andaikata Ayah ada di sana pasti Ayah akan mengajari saya dengan baik. Katanya Ayah adalah seorang pelukis hebat dan saat saya melihat gambar potret Ibu yang Ayah buatkan, saya sangat percaya.
Saya melukis Ibu dalam gambar itu saat Ibu masih sehat, kira-kira 32 tahun umurnya. Ibu sangat cantik, bukan? Kalau gambar yang Ibu buatkan, Ibu bilang itu adalah perasaan Ibu saat memikirkan Ayah. Saya tidak mengerti apa maksudnya.
Ayah, dulu Ibu selalu mengingatkan saya, “Ayahmu adalah seorang perempuan dan Ibu sangat mencintainya,” dan ketika sakit, sebelum meninggal, Ibu memanggil-manggil namamu. Dia ingin pulang ke tempat Ayah, tapi orang-orang di sana tak ada yang mengizinkan. Mereka juga marah saat mengetahui perbuatan Ibu yang mengatakan pada saya bahwa Ayah adalah seorang perempuan. Mereka menganggapnya salah.
Teman-teman saya sendiri semuanya berayahkan laki-laki, tapi saya senang punya ayah perempuan karena saya yakin Ayah akan sangat baik pada saya. Ayah Julia dan Lottie yang laki-laki sering memukuli mereka sampai menangis.
Ayah, jenguklah saya di Jerman ini. Saya ingin bertemu, ingin melihat rupa Ayah. Ibu angkat saya yang sekarang tidak bisa bepergian jauh-jauh. Sudah terlalu tua. Jadi saya sangat berharap, andaikata Ayah mau datang dan melihat saya. Saya malas menulis surat panjang-panjang, datanglah dan saya akan bercerita banyak padamu. Ayah, saya mencintaimu.
Mariya Rusalka Erkind
9. Mariya Rusalka Erkind
Setelah beberapa hari berputar-putar di Dresden, akhirnya saya memberanikan diri menghubungi nomor yang ditulis Mariya dalam alamat rumahnya. Seorang wanita berbahasa Jerman yang mengangkat telepon itu, dan ketika saya menanyakan Mariya, dia menjerit. Lalu buru-buru memanggil gadis kecil itu.
Jantung saya berdegup seolah mau meledak saat terdengar suara kaki-kaki berlari, suara gagang telepon disambar dan suara nafas yang terengah-engah. Lalu suara seorang gadis muda, yang jernih, nyaring, dengan bahasa Inggris yang tersendat-sendat penuh emosi, menyapaku,
“Halo, apa kabar? Ayah?”
Dan saya memutuskan, saya telah siap untuk bertemu dengannya.
* * * *
“Mariya sudah lama menunggu. Andakah Frank yang sering disebut-sebut itu?” Sonja, ibu angkat Mariya, tertatih-tatih membukakan pintu untukku. Saya tersenyum, membantunya berjalan balik,
“Ya, inilah saya. Sudah lama saya menantikan saat ini,”
“Maafkan kami, Frank. Orang yang membawa Mariya dari Hamburg tidak pernah kembali setelah menitipkan anak itu. Kami baru tahu alamatmu sebulan yang lalu, dari catatan telepon di saku mantel Lucy yang dikirim dari Hamburg,”
“Sebetulnya saya sudah tidak tinggal di situ lagi. Tapi syukurlah dulu apartemen itu tidak saya jual. Saya kira, dulu Lucy pergi ke Rusia,”
“Rusia? Saya tak tahu, tapi dia tinggal di Hamburg sudah lama sekali,” kenang wanita itu, matanya jernih menerawang.
“Duduklah di sini, Anakku. Akan kupanggilkan Sayangku Mariya,” wanita tua itu mendudukkanku di atas sebuah kursi makan, lalu pelan-pelan menghilang ke balik pintu sebuah kamar, yang membuat dadaku tercekat karena saya tahu di sanalah, putri Lucy dan saya berada. Kami sudah sebegini dekat.
Dan keluarlah dia, gadis muda berumur tiga belas tahun itu. Mengenakan gaun merah muda dan kentara sekali ia berdandan untuk menyambutku. Rambutnya pirang bergelombang. Matanya cokelat kayu ek. Saya terpaku, Tuhan tengah menghadapkanku dengan anak yang pernah berada dalam rahim Lucy. Dia darah daging Lucy. Putri Lucy. Putri kami. Saya hampir tak percaya.
Gadis itu menatapku, mendekat, mengulurkan lengan, meraih kepalaku, lalu secepat kilat membenamkanku dalam pelukannya. Saya bisa merasakan mataku memanas dengan hebat, rasanya seperti ditarik kembali ke masa lalu dan kini saya tengah membenamkan kepala dalam pelukan Lucy. Saya mulai menangis, lalu gadis itu membelai-belai rambutku dengan tangannya yang kecil. Rasanya persis seperti belaian Lucy,
“Lucy…”
“Mariya, Ayah. Ini saya, Mariya,”
“Mariya..”
“Iya, Ayah. Betul, betul, ini Mariya..”
“Mariya,”
“Ayah,”
Selama tiga puluh menit selanjutnya, saya terus menangis tersedu-sedu dalam pelukan Mariya.
10. Putri Duyung
“Rusalka itu artinya putri duyung, bukan? Kenapa ibumu menamaimu putri duyung?” saya menyesap kopi yang dibuatkan ibu angkat Mariya. Kami tengah duduk-duduk di dok belakang rumah, mendinginkan mata saya yang panas dan berair. Mariya tak menjawabnya, saat saya menoleh ternyata ia tengah asyik mengamati saya.
“Kenapa, Mariya?” tanya saya sambil meletakkan cangkir kopi di samping piring kue baum kuchen. Mariya terpana,
“Ayah benar-benar seorang perempuan? Betulkah? Tapi Ayah sangat tampan, boleh saya menyentuh wajah Ayah?” Mariya menatap saya dengan pandangan malu-malu. Pandangan seorang anak gadis yang baru pertama kali bertemu ayahnya setelah seumur hidup belum pernah. Mungkin baginya, “ayah” adalah barang ajaib yang belum pernah disentuh atau dimilikinya.
“Silakan, my girl. Tapi sebenarnya saya sudah terlalu tua untuk disebut tampan,” senyum saya, menyodorkan wajah untuk disentuh oleh tangannya. Dia kemudian mengulurkan jari, menyentuh rahang saya dan saya pun tersenyum lebih lebar.
“Oh, Ayah bukan hanya tampan. Tapi juga cantik,” dia tampak terpesona, lalu meraba hidungku, kupingku, bibirku, seperti seorang anak buta yang ingin mengetahui rupa seseorang lewat mata-jarinya. Saya tertawa,
“Ibumu jauh lebih cantik. Kau juga cantik, benar-benar mirip ibumu. Kenapa dia menamaimu Rusalka, sayang?”
“Tidak tahu. Tapi Ibu sangat menyukai dongeng Slavia itu. Mungkin sebenarnya Ibu adalah putri duyung, Ayah?”
“Ya, mungkin. Putri duyung, atau Alice yang tersesat di dunia nyata,”
“Ayah, Alice tersesat di Negeri Ajaib. Bukan di dunia nyata,”
“Baiklah, Alice yang kembali ke dunia nyata,”
“Atau barangkali Ibu adalah ratu Inggris,”
“Bisa jadi, ratu Inggris yang menyaru. Atau mungkin dia adalah Mélusine,”
“Siapa itu Mélusine?”
“Gadis yang luar biasa cantik dalam dongeng Luxembourg, istri Sigefroi sang Pangeran Lucilinburhuc. Dia putri duyung juga,”
“Jadi Ibu benar-benar putri duyung?"
"Siapa tahu, cherie,"
"Siapa tahu, cherie,"
No comments:
Post a Comment