Hal itu terjadi saat Madeleine merasa gugup dan kepingin meledak. Saat itu adalah saat ketika kau bisa merasakan musim semi mulai menari. Adalah waktu singkat dalam pergantian musim yang membuatmu merasakan sesuatu yang baru akan terjadi, dan kau mabuk oleh perasaan harap-harap cemas. Di luar, hujan ringan turun berderai, dibedaki cahaya matahari. Madeleine ingin membuka kedua jendela apartemennya dan membiarkan kabut basah hangat mengisi ruangan. Tapi suara berisik dari lalu lintas di jalan membuatnya mengurungkan niat, dan ia mencemaskan seekor burung yang kini berada dalam apartemennya. Saat itulah, suara desis jarum pemutar piringan hitam muncul dari lubang ventilasi. Madeleine merunduk di samping lubang itu dan mencuri dengar. Musik mengalun lamat-lamat. Terdengar seperti Billie Holiday. Ini memang Billie Holiday, sudah dua minggu ini ia mencari-cari rekaman Holiday di toko dan tak menemukannya. Dia bersandar pada kursi bacanya yang tua dan kumal, menatap tumpukan buku dan peralatan menggambar di depannya. Terlalu banyak waktu dihabiskan buat membaca dan bermimpi, pikirnya cemas.
Dia menatap seekor burung kecil berbulu hijau-biru dalam sangkar yang diletakkan di samping tempat tidur, lalu mengambil sebatang krayon biru. Burung itu pendiam. Pendiam dan sangat cantik. Setiap beberapa waktu ia akan memutar kepala dengan pelan, menilai lingkungan barunya. Dia adalah makhluk yang tenang. Bahkan ketika Madeleine membawanya pulang seminggu lalu dan memotretnya dengan kamera polaroid, dia hanya mengepakkan sayap dengan lembut. Gerakan kabur-halus yang menampakkan keanggunan alamiah, pikir Madeleine, saat ia menyentuh foto yang kini tergantung di dinding, tepat di sebelah kursi baca. Burung itu terlihat sebiru lautan. Saat ia meletakkan kembali krayonnya, hal itu kembali terjadi. Dia tak yakin sudah seberapa lama Maggie tinggal di bawah apartemen ini. Sudah seberapa lama ia berada di sana. Madeleine menyandarkan kepala ke dinding dan mulai mengelupasi label krayon tuanya. Dia meraih sestoples lem dan membuka tutup benda itu. Musik dari lubang ventilasi bercampur dengan suara Maggie, suara isakan perempuan itu terdengar wajar sebagai bagian dari lagu. Bukan sebagai instrumen, atau bunyi pelengkap, tapi interior dari lagu itu sendiri, yang tumbuh menanjak seiring si lagu. Terdengar seperti suara hantu. Madeleine mencolek dan menyapukan lem pada selembar foto polaroid, dan menempelkan foto dengan obyek berwarna hijau itu, ke dinding.
“Buih lautan,” dia berbisik.
< 2 >
Biasanya, dia hanya datang pada hari Rabu siang. Di hari itu, bioskop menawarkan diskon pemutaran film siang hari dan ia hanya perlu membayar tiga dolar. Selain karena harganya, Madeleine menyukai saat itu karena bioskop akan cukup sepi. Bioskop itu adalah sebuah bioskop tua yang memutarkan film-film lama dan art film. Madeleine menyukai aroma apek dalam bioskop itu, dan kursi-kursinya yang lusuh, berwarna merah anggur pudar. Dia menyukai kilauan warna layar yang teredam kegelapan, seperti lukisan Hopper tua yang tergantung di atas kursinya. Sesekali ia akan membawa serta sebuah lampu baca, alas gambar, dan ia akan menggambar wajah-wajah yang muncul dalam film.
Tapi Madeleine bertemu dengannya pada sebuah Minggu malam. Di luar kebiasaannya, hari itu dia membayar penuh. Karena ada sebuah film yang ingin dia lihat dan film itu hanya diputar di akhir pekan. Film itu adalah Stardust Memories, disutradarai Woody Allen. Allen adalah salah satu favorit Madeleine, sebelum dia membuat skandal memalukan dengan putri angkat kekasihnya sendiri. Dia pernah menonton satu-dua film terbaru Allen dan merasa sangat malu, rasanya seperti dikhianati oleh seorang sahabat yang dulu disukai.
“Apa kau pernah menggambar burung-burung?”
Madeleine mendongak dari kesibukannya dengan dompet. “Maaf?”
“Alas gambar itu. Kau pelukis?”
“Oh, aku membuat sketsa.”
Kemudian Madeleine mulai terkejut saat menyadari bahwa ia adalah perempuan dari gedung apartemennya. Madeleine pernah melihat dia di ruang cuci lantai dasar, menggunakan keranjang cucian sebagai pijakan untuk menaiki mesin cuci, lalu membuka jendela di atasnya dan memberi makan beberapa burung kecil di sekitar tembok pengaman. Madeleine menyaksikan mereka terbang dan hinggap, mematuki remah biskuit asin dari tangan si perempuan. Tiga hari setelah Madeleine mendengar suara-suara dari lubang ventilasi dan menyadari perempuan itu tinggal di 3c, tepat di bawah apartemennya. Dia juga pernah melihatnya melalui jendela, suatu sore. Dia keluar dari gedung, sendirian. Madeleine ingat bagaimana rambutnya terangkat lembut dimainkan angin, saat dia berjalan menjauh.
“Aku suka film yang ini,” Perempuan itu berkata, merobek selembar tiket berwarna oranye dari gulungan tiket. Madeleine berusaha mencari uang di balik carikan-carikan struk dalam dompetnya.
“Meskipun Woody Allen agak mengerikan sekarang.”
Madeleine menaruh uang enam setengah dolarnya di atas meja konter dan menatap ke depan. Dia menangkap senyum si perempuan. Perempuan itu memiliki senyum yang indah, lembut, ditambah dengan kesan dari matanya yang cokelat-muram. Madeleine ingin sekali memberitahunya bahwa ia sudah tak menyukai Woody Allen lagi, dan ia hanya datang untuk menggambar wanita sedih yang bermain sebagai kekasih pertama Allen dalam film. Bahwa ia tak melihat wanita itu dalam adegan lain, seakan ia menghilang. Dan dia hanya mengagumi satu adegan tertentu. Pengambilan gambar secara sederhana dari si wanita, dengan pemotongan gambar yang tak sesuai kaidah pengeditan klasik, jumpcuts, dari berbagai ekspresi berbeda: kecemasan berlebihan, tawa yang ganjil, rasa sakit, derita. Dia ingin memberitahu perempuan itu, hanya demi ini ia mau datang untuk menonton. Hanya untuk menggambar si wanita, menariknya pergi dari film dan Allen, selamanya.
“Ya, aku mengerti maksudmu,” Madeleine menarik kembali keinginannya, merasa bersalah. Memalukan, pikirnya.
“Ini tiketmu.” Perempuan itu menggeser tiket Madeleine, beserta uangnya.
“Tapi –“
Perempuan itu tersenyum dan mengangguk. “Menontonlah, kau bisa membayar lain waktu.”
“Oh. Terima kasih…” Madeleine balas tersenyum. Dia mengumpulkan uang dan tiketnya.
“Terima kasih, Maggie.”
Hal itu berlangsung begitu saja, setelah Madeleine beranjak meninggalkan Maggie. Dia setengah sadar akan apa yang dilakukannya. Terperangkap di antara suara Maggie, lagu yang lamat-lamat berasal dari apartemen perempuan itu, dan suara ketukan hujan yang mulai bertambah keras mendera jendela apartemennya. Si burunglah yang menyadarkan Madeleine. Dia mematuk kelintingan perak kecil yang tergantung di bagian atas sangkarnya. Memiringkan kepala dan menatap Madeleine yang berdiri di bawah. Madeleine terbelalak untuk sesaat, lalu tersenyum, dan kembali menyelesaikan sketsanya: sehelai pita melingkari leher seekor burung, terjulur meliuk-liuk melintasi dinding, membentuk kalimat: HALO, MAGGIE YANG SEDANG BERSEDIH.
< 3 >
Madeleine tidak menggunakan lift, karena ia cemas si burung takkan menyukainya. Setelah menuruni tangga pertama, tangannya mulai gemetar. Butiran hujan mengempaskan diri ke atas tempat sampah-tempat sampah logam di luar sana, mengisi ruang sepanjang tangga dengan gema. “Kau baik-baik saja, Sayang?” Si burung melompat dari satu tenggeran ke tenggeran lain, dengan tenang mengawasi dinding dan pegangan tangga yang mereka lewati. Sesaat setelah ia memasuki lorong dan berhenti di depan pintu, sebuah pikiran datang dan membuatnya takut: “Halo, Maggie? Aku tahu kita baru beberapa kali bertemu, tapi kaulihat lubang ventilasi itu? Terhubung dengan lubang ventilasi di apartemenku dan aku mendengarmu menangis dari sana dan… aku hanya ingin memberimu burung ini.” Ya, benar. Sialan. Dia tak bisa bergerak. “Tidak. Jangan begini,” pikirnya. Dia menunduk menatap si burung. Lalu berbalik dan kembali menuju tangga, dan tepat ketika ia mulai berjalan, terjadilah. Burung itu berkicau. Sebuah kicauan pelan. Madeleine membeku. Dia kembali menunduk menatap burung kecil itu, yang balas menatapnya. Mereka saling memandang. Madeleine tak dapat bergerak sekali lagi.
Pintu apartemen terbuka. Maggie mengintip hati-hati. “Burung?”
Si burung mulai berkicau lagi. Maggie melangkah keluar.
“Oh, manisnya. Kau sungguh menawan.” Ujarnya, saat burung itu terus berkicau lembut. Dia berputar menghadap Madeleine. “Hai.”
Madeleine tersenyum. Wajahnya memerah. Dia tak yakin apa dia masih dapat bergerak. Dia mengangkat lengannya ragu-ragu, memberikan sangkar burung pada Maggie. Si burung terburu-buru mendekati pintu sangkar untuk menyapa Maggie. Maggie menyentuh sangkar, jemarinya menyapu jeruji pintu benda itu.
“Mm. Aku membelikan ini untukmu.”
Maggie memandangi Madeleine. Dia terdiam. “Oh,” desahnya. Dia tersenyum tipis, terlihat serius beberapa waktu, dan kemudian matanya mulai berkaca-kaca.
Dia mengambil-alih sangkar burung dari tangan Madeleine yang gemetar halus. Lalu memandang perempuan itu. “Maukah kau ikut masuk?”
Madeleine mencoba tersenyum santai.
“Ya. Tentu,”
Hal pertama yang menarik perhatian Madeleine dalam apartemen Maggie adalah tanaman-tanaman milik perempuan itu. Bukan karena jumlahnya – meski jumlahnya memang banyak – tapi karena warnanya yang hijau cemerlang. Madeleine tak tahu kalau tanaman dalam ruangan bisa secantik itu.
“Bagaimana tanamanmu bisa terlihat begitu hijau?”
Sebelum ia memperoleh jawaban, Madeleine merasakan sebuah tangan yang lembut menyentuh lehernya. Dia berbalik dan Maggie mendekat, menciumnya.
“Terima kasih,” bisik Maggie.
Madeleine menatap matanya, saat perempuan itu meraih dan mengelus rambut Madeleine dengan penuh kasih sayang. Dia mencium Madeleine sekali lagi.
“Aku bicara pada mereka,” senyum Maggie. Madeleine balas tersenyum.
“Ada hal yang harus kuberitahukan padamu,” ujar Madeleine setelahnya, merasakan tangan Maggie masih membelai pinggangnya. Dia memandangi si burung, yang masih bertengger rapat dekat pintu sangkar, balik memandangi kedua perempuan itu.
“Aku tahu ini kedengarannya bodoh, tapi… saat pertama kali aku… mmm…” dia berhenti sejenak, tampak serius. “Ketika aku datang ke bioskop, aku ingin memberitahumu… aku benar-benar sudah berhenti menyukai Woody Allen, aku pikir dia menjijikkan. Aku cuma sangat suka filmnya. Ya. Film itu.” Dia mengembuskan napas dan tertawa canggung.
Maggie tertawa. Diciumnya kening Madeleine.
“Aku membuat sketsa si wanita di buku sketsaku.” Lanjut Madeleine malu-malu.
Maggie mengangguk, tersenyum. Madeleine mengedarkan pandangan ke sekitar, lalu kembali melihat Maggie.
“Si kekasih pertama,” ucapnya menambahkan.
Maggie mengangguk mengerti. “Jumpcuts,” ujarnya pelan.
Madeleine tersenyum. “Aku sempat berpikir kalau kau adalah hantu.”
“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku bukan hantu?” seringai Maggie.
“Aku tak tahu, mungkin.” Dia diam sejenak dan melirik si burung. “Tapi burung ini bisa melihatmu juga.”
“Burung manis itu mungkin sudah melihat banyak hantu sebelumnya.”
Madeleine terdiam. Dia memandangi lantai. Lalu kembali memandangi Maggie, kepalanya terangkat pelan seperti si burung. “Apakah kau benar-benar hantu?”
Maggie berhenti bergerak sejenak. Dia menarik napas. “Aku tak yakin,” cetusnya lembut. Pandangannya menerawang. Madeleine menarik napas dalam-dalam, menghampiri Maggie dan meremas tangannya kuat-kuat. Dia menutup kedua matanya, menyandarkan tubuh dan mencium Maggie, tepat di bawah telinganya.
“Aku tak peduli,” bisiknya.
No comments:
Post a Comment