Duh, usia saya kini mulai
menginjak 29 tahun. Alergi debu yang semakin parah membuat saya menderita
berkepanjangan hanya karena membuka sebuah buku tua. Iman saya pada Beatrix
Potter, Peter Rabbit dan Moppet semakin lama semakin luntur, kulit saya semakin
pucat, rambut dan mata saya semakin cokelat. Saya tak pernah menikah, karena
secara genetis (warisan ibu saya, yang juga tak pernah menikah seumur hidupnya),
saya menolak mempercayai mitos tentang kesakralan pernikahan.
Dan dua tahun lalu saya bertemu
dengan seorang teman baru. Kami sedang sama-sama mengantri kartu isian imigrasi
di bandara Suvarnabhumi, Bangkok, saat tiba-tiba perut saya meratap didera
kelaparan setelah berjam-jam melewatkan sarapan dan makan siang. Seseorang di
belakang saya tertawa tertahan, lalu menepuk bahu saya lembut dan memberi saya sepotong roti, yang ia keluarkan dari saku jaket.
Kami berkenalan, dan namanya
bukan main-main: Akira Sudjiwa. Dia lelaki jangkung bertampang Asia Timur
dengan kulit Asia Tenggara. Bapaknya dari Nagashima dan ibunya dulu adalah
gadis bersuku Sunda. Dia merahasiakan identitasnya sebagai seorang penjelajah waktu. Sungguhan. Sekarang saya
sedang memandangi foto yang tergantung di samping cermin Cina bulat dalam kamar
saya. Foto mendiang kakek dan nenek saya, berbulan madu semasa pengantin baru, berpose
di depan toko sutra kota Essaouira yang seharusnya berdinding biru laut. Yang
etalasenya berisi pajangan sutra dengan tisikan benang emas (kilauan warnanya
tertelan film monokrom). Akira berdiri bersama mereka, dirangkul dengan akrab
di tengah-tengah. Dua tahun lalu, hanya ada mendiang Kakek dan Nenek dalam foto
itu.
Akira adalah seorang penulis
novel, dia sudah sering bepergian demi menulis novel yang bagus. Dia
menginginkan label penulis besar, ketenaran, semuanya dia ceritakan tanpa
malu-malu. Secara main-main saya menyarankan, kenapa ia tidak memanfaatkan kondisinya
sebagai seorang penjelajah waktu?
Dia bisa mencuri karya-karya penulis besar dunia, para Nobel laureate, lalu pergi ke masa lalu dan
membunuh mereka sebelum karya-karya itu dipublikasikan. Dia tinggal memilih
apakah dia menginginkan Deledda atau Gordimer. Atau Oe dan Kawabata (karena
darah Jepangnya) Yang pasti, dia tak boleh menyentuh Kipling, karena Kipling
adalah cinta pertama saya di dunia literatur. Dan Mistral, menjauhlah dari
Gabriela Mistral.
“Saya belum pernah membunuh,”
Akira tersenyum, wajahnya mengira-ngira apa gagasanku cukup masuk akal. Saya
terbahak dan menyuruhnya melupakan semua omong kosong saya, mengajaknya makan
siang dan membeli kopi. Beberapa hari berselang, dia menghilang.
***
Saya sendiri memiliki pekerjaan
kecil yang menarik, sebagai seorang pencuci-cetak film kamera. Uang yang
dihasilkan dari pekerjaan itu hanyalah bahan gurauan, jumlah pengguna kamera
analog yang membutuhkan jasa cuci-cetak sudah sangat menyusut. Saya membaca
berita tentang Kodak yang mendaftarkan kebangkrutan perusahaannya sambil
memakan mie instan dan berduka. Kehidupan saya saat ini ditopang oleh sisa
warisan mendiang ayah saya, seorang pemilik toko barang antik yang meninggal
begitu saja di usia 58 tahun. Bukannya saya tak bisa mencari pekerjaan lain
yang lebih menghasilkan uang, tapi saya masih ingin menikmati hidup saya sebagai
seorang gadis miskin, yang tinggal dalam toko barang antik nan romantis.
Dan Akira. Saya kurang tahu
pekerjaan apa yang dia lakukan agar bisa keluyuran setiap hari dengan setelan
bagus, nongkrong di kafe-kafe memesan semua jenis teh secara bergiliran (dia
cuma mau minum teh), dia bahkan sering mentraktir saya minum. Saya tak mau
bertanya, barangkali dia anak orang kaya lama, atau seperti Henry deTamble
dalam novel Istri Sang Penjelajah Waktu,
Akira mencuri uang dari masa lalu dan masa depan.
Menurut klaim dia sendiri, berbeda
dengan cerita Audrey Niffenegger, Akira menjadi seorang penjelajah waktu bukan
karena cacat genetis. Hal ini memang merupakan masalah genetis, tapi Akira
menolak menyebutnya sebagai ‘cacat’ atau ‘mutasi’. Dia lebih suka menyebutnya
sebagai ‘gen yang istimewa’. Gen super, yang diturunkan setiap empat generasi
melalui proses rumit dan seleksi ekstra ketat. Dia juga mampu mengontrol loncatan
waktu, tidak seperti Henry deTamble yang tiba-tiba tersungkur di suatu ruang
dan waktu, dalam keadaan telanjang dan muntah. Dia bisa melompat dengan santai,
mulus, sambil menghirup teh panas dalam gelas kertas. Tanpa menumpahkan setetes
teh-pun. Dia membanggakannya pada saya pada tiap kesempatan.
Dia tinggal di berbagai tempat,
sebelum menyinggahi kota Bandung tempat saya berdiam. Mungkin karena ibunya
yang berdarah Sunda itu juga berasal dari kota ini. Saya pernah diperlihatkan
fotonya sekali, perempuan cantik dengan kulit seputih mutiara, mata tajam dan hidung
mungil.
Beberapa hari setelah dia menghilang,
Akira kembali menemui saya. Dia muncul di depan pintu rumah dan mengajak saya
minum teh sore. Saya mengiyakan dan keluar tanpa mengganti baju. Saya
mengenakan celana katun cokelat tua dan pakaian rajut hijau longgar yang sudah
lusuh. Setelah kami berhubungan dekat (dengan alasan yang tak pernah
benar-benar saya ketahui) Akira mulai sering memerhatikan penampilan saya yang
seadanya. Beberapa kali dia meninggalkan kantong-kantong kertas berisi
pakaian-pakaian mahal di rumah, semuanya saya terima, dan saya simpan dalam
lemari antik milik Ayah. Saya kurang suka mengenakan pakaian yang mencolok.
Setelah kami duduk di sebuah
kedai teh kecil seberang, Akira menyalakan rokok saya dengan pemantik keramik
miliknya. Lalu mundur dan menatap saya mengembuskan asap. Dia memainkan jarinya. Rambutnya ditimpa selubung sinar matahari. Saya
menghabiskan beberapa detik untuk mengamati rambut Akira, yang seperti disebari
serbuk tembaga.
“Lakhsmi,” panggilnya.
“Apa?”
“Ingat waktu itu kau
menyarankanku untuk mencuri karya para Nobel laureate sebelum mereka memublikasikannya? Lakshmi, saya
melakukannya, saya mencuri, saya membunuh,”
“Siapa?”
“Kipling, Rudyard Kipling,”
“Siapa dia?”
Akira terdiam. Saya belum pernah
mendengar nama Rudyard Kipling sebelumnya, jadi saya tak begitu tertarik. Dia
pasti main-main. Orang seperti dia, lelaki jangkung lemah lembut, pemakan
sayuran, peminum teh, mengaku mencuri karya dan membunuh seorang penulis asing.
Akhirnya dia tak meneruskan cerita itu, membelikan saya secangkir besar teh echinacea dan
berbicara tentang novel terbarunya. Cerita tentang seorang anak lelaki bernama Mowgly,
yang dibesarkan oleh seekor serigala bernama Akela. Saya mendengarkan dengan
cermat, lalu merasa jatuh cinta.
No comments:
Post a Comment