Tuesday, May 15, 2012

Akira


Duh, usia saya kini mulai menginjak 29 tahun. Alergi debu yang semakin parah membuat saya menderita berkepanjangan hanya karena membuka sebuah buku tua. Iman saya pada Beatrix Potter, Peter Rabbit dan Moppet semakin lama semakin luntur, kulit saya semakin pucat, rambut dan mata saya semakin cokelat. Saya tak pernah menikah, karena secara genetis (warisan ibu saya, yang juga tak pernah menikah seumur hidupnya), saya menolak mempercayai mitos tentang kesakralan pernikahan. 

Dan dua tahun lalu saya bertemu dengan seorang teman baru. Kami sedang sama-sama mengantri kartu isian imigrasi di bandara Suvarnabhumi, Bangkok, saat tiba-tiba perut saya meratap didera kelaparan setelah berjam-jam melewatkan sarapan dan makan siang. Seseorang di belakang saya tertawa tertahan, lalu menepuk bahu saya lembut dan memberi saya sepotong roti, yang ia keluarkan dari saku jaket.

Kami berkenalan, dan namanya bukan main-main: Akira Sudjiwa. Dia lelaki jangkung bertampang Asia Timur dengan kulit Asia Tenggara. Bapaknya dari Nagashima dan ibunya dulu adalah gadis bersuku Sunda. Dia merahasiakan identitasnya sebagai seorang penjelajah waktu. Sungguhan. Sekarang saya sedang memandangi foto yang tergantung di samping cermin Cina bulat dalam kamar saya. Foto mendiang kakek dan nenek saya, berbulan madu semasa pengantin baru, berpose di depan toko sutra kota Essaouira yang seharusnya berdinding biru laut. Yang etalasenya berisi pajangan sutra dengan tisikan benang emas (kilauan warnanya tertelan film monokrom). Akira berdiri bersama mereka, dirangkul dengan akrab di tengah-tengah. Dua tahun lalu, hanya ada mendiang Kakek dan Nenek dalam foto itu.

Akira adalah seorang penulis novel, dia sudah sering bepergian demi menulis novel yang bagus. Dia menginginkan label penulis besar, ketenaran, semuanya dia ceritakan tanpa malu-malu. Secara main-main saya menyarankan, kenapa ia tidak memanfaatkan kondisinya sebagai seorang penjelajah waktu? Dia bisa mencuri karya-karya penulis besar dunia, para Nobel laureate, lalu pergi ke masa lalu dan membunuh mereka sebelum karya-karya itu dipublikasikan. Dia tinggal memilih apakah dia menginginkan Deledda atau Gordimer. Atau Oe dan Kawabata (karena darah Jepangnya) Yang pasti, dia tak boleh menyentuh Kipling, karena Kipling adalah cinta pertama saya di dunia literatur. Dan Mistral, menjauhlah dari Gabriela Mistral.

“Saya belum pernah membunuh,” Akira tersenyum, wajahnya mengira-ngira apa gagasanku cukup masuk akal. Saya terbahak dan menyuruhnya melupakan semua omong kosong saya, mengajaknya makan siang dan membeli kopi. Beberapa hari berselang, dia menghilang. 

***

Saya sendiri memiliki pekerjaan kecil yang menarik, sebagai seorang pencuci-cetak film kamera. Uang yang dihasilkan dari pekerjaan itu hanyalah bahan gurauan, jumlah pengguna kamera analog yang membutuhkan jasa cuci-cetak sudah sangat menyusut. Saya membaca berita tentang Kodak yang mendaftarkan kebangkrutan perusahaannya sambil memakan mie instan dan berduka. Kehidupan saya saat ini ditopang oleh sisa warisan mendiang ayah saya, seorang pemilik toko barang antik yang meninggal begitu saja di usia 58 tahun. Bukannya saya tak bisa mencari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan uang, tapi saya masih ingin menikmati hidup saya sebagai seorang gadis miskin, yang tinggal dalam toko barang antik nan  romantis. 

Dan Akira. Saya kurang tahu pekerjaan apa yang dia lakukan agar bisa keluyuran setiap hari dengan setelan bagus, nongkrong di kafe-kafe memesan semua jenis teh secara bergiliran (dia cuma mau minum teh), dia bahkan sering mentraktir saya minum. Saya tak mau bertanya, barangkali dia anak orang kaya lama, atau seperti Henry deTamble dalam novel Istri Sang Penjelajah Waktu, Akira mencuri uang dari masa lalu dan masa depan.

Menurut klaim dia sendiri, berbeda dengan cerita Audrey Niffenegger, Akira menjadi seorang penjelajah waktu bukan karena cacat genetis. Hal ini memang merupakan masalah genetis, tapi Akira menolak menyebutnya sebagai ‘cacat’ atau ‘mutasi’. Dia lebih suka menyebutnya sebagai ‘gen yang istimewa’. Gen super, yang diturunkan setiap empat generasi melalui proses rumit dan seleksi ekstra ketat. Dia juga mampu mengontrol loncatan waktu, tidak seperti Henry deTamble yang tiba-tiba tersungkur di suatu ruang dan waktu, dalam keadaan telanjang dan muntah. Dia bisa melompat dengan santai, mulus, sambil menghirup teh panas dalam gelas kertas. Tanpa menumpahkan setetes teh-pun. Dia membanggakannya pada saya pada tiap kesempatan.

Dia tinggal di berbagai tempat, sebelum menyinggahi kota Bandung tempat saya berdiam. Mungkin karena ibunya yang berdarah Sunda itu juga berasal dari kota ini. Saya pernah diperlihatkan fotonya sekali, perempuan cantik dengan kulit seputih mutiara, mata tajam dan hidung mungil.

Beberapa hari setelah dia menghilang, Akira kembali menemui saya. Dia muncul di depan pintu rumah dan mengajak saya minum teh sore. Saya mengiyakan dan keluar tanpa mengganti baju. Saya mengenakan celana katun cokelat tua dan pakaian rajut hijau longgar yang sudah lusuh. Setelah kami berhubungan dekat (dengan alasan yang tak pernah benar-benar saya ketahui) Akira mulai sering memerhatikan penampilan saya yang seadanya. Beberapa kali dia meninggalkan kantong-kantong kertas berisi pakaian-pakaian mahal di rumah, semuanya saya terima, dan saya simpan dalam lemari antik milik Ayah. Saya kurang suka mengenakan pakaian yang mencolok. 

Setelah kami duduk di sebuah kedai teh kecil seberang, Akira menyalakan rokok saya dengan pemantik keramik miliknya. Lalu mundur dan menatap saya mengembuskan asap. Dia memainkan jarinya. Rambutnya ditimpa selubung sinar matahari. Saya menghabiskan beberapa detik untuk mengamati rambut Akira, yang seperti disebari serbuk tembaga.

“Lakhsmi,” panggilnya.

“Apa?”

“Ingat waktu itu kau menyarankanku untuk mencuri karya para Nobel laureate sebelum mereka memublikasikannya? Lakshmi, saya melakukannya, saya mencuri, saya membunuh,”

“Siapa?”

“Kipling, Rudyard Kipling,”

“Siapa dia?”

Akira terdiam. Saya belum pernah mendengar nama Rudyard Kipling sebelumnya, jadi saya tak begitu tertarik. Dia pasti main-main. Orang seperti dia, lelaki jangkung lemah lembut, pemakan sayuran, peminum teh, mengaku mencuri karya dan membunuh seorang penulis asing. Akhirnya dia tak meneruskan cerita itu, membelikan saya secangkir besar teh echinacea dan berbicara tentang novel terbarunya. Cerita tentang seorang anak lelaki bernama Mowgly, yang dibesarkan oleh seekor serigala bernama Akela. Saya mendengarkan dengan cermat, lalu merasa jatuh cinta.

No comments:

Post a Comment